5 Dosa Sepupu Saya saat Jual-Beli Seperangkat Komputer Kepadanya


Mentang-mentang status kekeluargaannya yang masih terikat ikatan saudara, bisa-bisanya berlagak seenak jidatnya sendiri urusan jual beli. Gini amat ya punya saudara yang nggak punya hati. Saudara ya saudara, tapi uang tetaplah uang, Bos!


Keluhan, Copa Media–Tahun lalu, sebelum saya menikah, channel YouTube saya tiba-tiba mendapatkan sebuah kejutan. Saluran pribadi yang sebelumnya tidak ada umat yang mau menonton satu pun videonya, tiba-tiba dirundung jutaan pengguna YouTube karena sebuah video rekaman CCTV mengenai kecelakaan di depan rumah saya tiba-tiba viral.


Satu video berdurasi 10 menit itu berhasil menarik minat dua juta penonton, dengan penayangan lebih dari 4.000 jam dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Subscriber yang sebelumnya nol pun tiba-tiba naik menjadi ribuan, sehingga channel saya itu dianggap layak oleh YouTube untuk menerima bagi hasil dari penayangan iklan adsense.


Sifat star syndrome tiba-tiba menjalar di tubuh saya. Impian saya menjadi seorang youtuber di depan mata, maka saya pun ingin mengurus channel tersebut secara serius agar bisa mewujudkan impian saya sejak zaman putih abu-abu itu. Sebab itu lah saya membeli seperangkat komputer kepada sepupu saya yang punya toko komputer. 


Namun, lagaknya saya diperdaya olehnya. Saya yang polos dan nggak tahu apa-apa tentang kondisi pasar dunia jual beli komputer sepertinya diperalat oleh sepupu yang berdosa. Apa saja dosanya? 


#1 Menjual dengan harga tinggi


Saya nggak tahu apakah komputer dengan prosesor Core I3 dengan RAM 4 GB beserta monitor kecil, mouse Votre, dan keyboard yang tombolnya keras tahun lalu dapat dihargai hampir Rp. 4 juta rupiah. Saya nggak kroscek ke toko komputer lain dulu untuk menanyakannya. Toh, dia masih sepupu, nggak mungkin aneh-aneh, pikir saya.


Sebenarnya nggak sepupu-sepupu amat sih. Dia itu sepupunya pacar saya saat itu yang sekarang sudah menjadi istri. Sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli kepadanya, awalnya saya ingin membeli secara online, di sana saya melihat komputer dengan spesifikasi prosesor Core I5 dengan RAM 8GB dengan harga 4 jutaan. Namun, karena calon istri saya saat itu melarang karena jual beli online urusan elektronik tidak bisa dipastikan keadaan barangnya. Ya sudah, saya beli ke sepupunya.


Nggak tahu hanya pandangan saya saja atau memang lebih mahal dari yang dijual di online shop. Hampir empat juta dibandingkan dengan empat juta namun dengan spesifikasi yang kalau dilihat dari kapasitas RAMnya dua kali lipat.


#2 Membeli dengan harga teramat miring


Setelah saya merasa channel YouTube saya nggak ada peningkatan penggemar setelah mencoba mengunggah berbagai macam konten selama beberapa bulan, saya pun menyerah dan memutuskan untuk menjual kembali komputer tersebut. Saya coba menanyakan harga jual komputer tersebut kepada beberapa toko komputer. 


Saya agak dibuat heran, beberapa toko komputer yang saya tanyai menjawab bahwa komputer dengan spesifikasi itu ada di harga kurang dari satu juta rupiah, mentok mentok satu jutaan. Katanya, komputer dengan spesifikasi rendah seperti punya saya susah untuk laku. Tapi kan, baru tahun lalu harganya hampir empat juta, masak dalam satu tahun anjlok begitu parah?


Saya coba tanyakan ke sepupu saya, ternyata sama. Harga yang dia patok adalah 700 ribu rupiah. Asem! Murah banget. Belinya di dia hampir 4 juta loh. Bisa-bisanya dia beli balik dengan uang Rp. 700 ribu? Angka itu bahkan lebih kecil dibandingkan dengan angka-angka yang ditawarkan oleh toko komputer lain yang saya tanyai.


#3 Memperlambat pembayaran padahal butuh


Oke lah, Rp. 700 ribu juga nggak papa deh. Mumpung lagi butuh uang buat biaya wisuda istri saya bulan Maret nanti, pikir saya. Saya deal dengan dia untuk membawa komputer itu kembali ke pangkuan dia. Namun, sesampainya di rumahnya, lha kok uangnya nggak bisa saya terima secara kontan. Katanya, menunggu dijualkan dulu. Terpaksa saya mengiyakannya.


Namun, transaksi yang sudah deal beberapa bulan lalu itu tak kunjung diselesaikan. Pembayaran atas jual balik komputer yang saya beli darinya terus tertunda dengan berbagai macam alasan. Bahkan, istri saya yang beberapa kali menanyakan saat dirinya membuat status WhatsApp tentang jual beli komputer sepertinya sekarang dibisukan. Sangat mencurigakan.


#4 Memberi janji omong doang


Seperti yang saya ceritakan tadi, beberapa kali istri saya menanyakan pembayaran atas pengembalian komputer itu melalui balasan status WhatsApp. Bulan pertama, dia memberi janji akan membayar bulan depannya karena bulan itu uangnya sudah habis untuk keperluan pribadinya. 


Bulan depannya saat ditanya lagi malah berdalih apa lagi. Terakhir, bulan ini saat ditanya malah nggak muncul lagi status WhatsApp dari dia. Istri saya curiga bahwa dirinya dibisukan supaya nggak banyak tanya. Sungguh contoh tidak baik permasalahan pembayaran atas penjualan komputer yang rasanya seperti menagih hutang dari seseorang yang semaunya sendiri.


#5 Nggak merasa ada beban saat ketemu 


Sebulan yang lalu, bahkan kami, (saya, dia, dan istri saya, bahkan keluarganya) bertemu dalam sebuah acara tujuh bulanan calon anak saya di kandungan istri. Dia datang dengan formasi lengkap entah untuk turut berdoa atau memang mengincar konsumsi saja. Yang saya kesalkan, kenapa komputernya kalau belum laku atau uangnya kalau sudah laku turut diantarkan ke rumah orang tua saya? 


Saya yang saat itu menjadi laden atas makanan yang disajikan untuk tamu undangan menatapnya sambil berharap dia berkata, "Oh iya mas, ini uang komputernya," ternyata dibuat kecewa dengan takdir yang nggak sesuai dengan permintaan pikiran saya. Ya sudah lah, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, akan tetap saya tunggu komputer atau uang itu.


Segera sadar mas! Nggak baik mengambil hak orang lain. 


Gambar: Gerd Altmann / Pixabay

Penulis : Muhammad Arif Prayoga 


Tags: Jual beli, Perangkat komputer, Dosa, Sepupu, Komputer,

Posting Komentar

0 Komentar