Indikasi Ketertarikan Kaesang Terjun ke Politik: Alasan Bisnis, atau Gara-Gara Menikah?


Mengaku satu-satunya sipil di keluarga Pak Jokowi, semua aset perusahaan yang sebelumnya digenggam oleh ayah dan kakak saat ini dipegang oleh Kaesang, si putra bungsu. Ketertarikannya di bidang politik setelah menikah dan menjelang pensiun sang ayah, apakah menjadi intrik Kaesang menunda waktu untuk berkiprah? 


Politik, Copa Media—Dalam sebuah podcast di Close The Door yang dimoderatori oleh sosok yang kini berpangkat Letkol, Kaesang pernah bercerita bahwa bisnis furnitur yang dulu menjadi rintisan usaha Presiden Joko Widodo dan bisnis kuliner milik Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka kini dilungsurkan kepadanya. Saat ditanya mengapa tidak ikut berpolitik, Kaesang menjawab dengan bertanya, siapa yang bakal pegang bisnis-bisnis ini nantinya. Setahunya, pejabat pemerintahan tidak dibolehkan punya perusahaan.


Saat itu, saya berpikir bahwa apa yang keluar dari mulut anak bungsu presiden ke tujuh ini masuk akal. Mengingat memang hanya dia satu-satunya orang yang pernah tercatat satu kartu keluarga dengan Jokowi namun masih konsisten menjadi warga sipil. Mas Gibran dan istrinya, menjadi Pak Wali dan Bu Wali, demikian juga Mbak Kahyang dan mas Bobby. Sebagai satu-satunya sipil, kata dia waktu itu, hanya dia yang diperbolehkan untuk menjadi pengusaha.


Dalihnya saat itu, gaji seorang aparatur pemerintah tidak semenarik omzet perusahaannya. Itulah yang menjadi sebab menetapnya dia sebagai warga sipil yang punya pendapatan besar dari banyaknya usaha yang dipegangnya, kilahnya. Tetapi, kayaknya omongan itu tidak bisa dipercaya begitu saja. Saya menduga bahwa kalimat itu hanyalah bualan yang tampaknya semakin terlihat arah dan tujuannya. Namun, masih ada dua opsi di kepala saya, menunda ada pengganti pemegang usaha, atau menunggu waktu pernikahan tiba.


Menjelang waktu "pensiun" sang ayah dan beberapa minggu pasca menikah, muncul indikasi yang berhasil diendus oleh media-media dalam negeri bahwa dirinya hendak mencari kendaraan untuk berkiprah di dunia politik, menyusul para kakak yang sudah mendahuluinya. Bahkan, informasinya sudah melebar ke arah rekomendasi dari kakaknya jika ingin benar-benar terjun ke politik. Tapi, sifat dan sikap mereka sebagai kakak adik yang sering slengean, membuat saya ragu apakah pembicaraan itu dilakukan saat sedang bercanda atau serius. Tapi kayaknya sih lagi serius.


Kalau keseriusan Kaesang meniti karier politik setelah Pak Jokowi diganti sih, tampak pandangan saya mengenai keterlambatannya untuk masuk ke ranah politik. Saya melihat secara jelas bahwa alur perpindahan kepemilikan bisnis lah yang menjadi alasan. 


Bisnis itu kayaknya bakal kembali kepada pangkuan ayah dan ibu, mungkin sebagai kado pensiun setelah menjabat dua periode. Apalagi didukung dengan keinginan Jokowi untuk menyudahi perpolitikannya dan memilih untuk menjadi warga biasa setelah wewenangnya yang masih dipegang saat ini dijabat oleh presiden baru tahun depan. Sangat mungkin pengelolaan bisnis kembali kepadanya.


Namun, kalau Kaesang jadi menyusul, ada kesamaan Kaesang dengan kakak kandung serta kakak iparnya, yaitu berkiprah setelah menikah. Pikiran saya yang awalnya menduga Kaesang menunda karier politik karena masalah kepemilikan usaha, kini diyakinkan dengan pendapat lain. jangan-jangan bukan persoalan bisnis yang membuat Kaesang rela bersabar menghadapi ketertarikannya terhadap politik. Tapi persoalan mendapatkan jodoh dulu yang mungkin menjadi standarisasi Pak Jokowi kepada anak-anaknya yang ingin menyusul kiprahnya. Atau mungkin juga hanya sebatas supaya tidak wagu. Masak iya Pak Walikota nggak ada Bu Walikotanya, kan aneh.


Indikasi keputusannya untuk terjun ke politik setelah pernikahannya yang dihadiri ribuan warga Solo—termasuk saya sendiri—itu menguatkan pendapat saya bahwa menikah adalah kunci yang menjadi syarat penting memulai karier politik di keluarga Jokowi. Anggapan ini menurut saya lebih kuat dibandingkan untuk sekadar mencari pemilik baru dari bisnis-bisnis yang diatasnamakan dirinya saat ini.


Entah pendapat saya yang mana yang mendekati benar, tergantung apakah Kaesang yang biasa bercanda ini benar-benar ingin mengabdi kepada negeri. Tergantung juga kapan dia akan bergabung dengan partai politik. Kalau setelah Jokowi turun tahta, berarti penundaannya terkait dengan perpindahan kepemilikan bisnis. Tetapi kalau dalam waktu dekat, fiks, penundaannya adalah urusan jodoh. 


Gambar: @bukankaesang21 / Tiktok

Penulis : Muhammad Arif Prayoga


Tags: Bisnis, Kaesang Pangarep, Joko widodo, Sang Pisang, Politik, Gibran Rakabuming,

Posting Komentar

0 Komentar