Posesifnya Bapak kepada Mobilnya Buat Sim A Saya Nggak Guna


Opini, Copa Media–Di dalam dunia yang fana ini, ada berbagai macam surat izin mengemudi atau yang biasa disebut dengan SIM. Kartu kecil berbentuk persegi panjang yang berisikan data diri, nomor kartu, dan foto yang kelihatan agak buluk–nggak tahu punya saya saja atau orang lain juga–ini menjadi "kunci" untuk mengendarai kendaraan bermotor.


Kalau SIM C mungkin sebagian besar warga negara Indonesia yang bisa mengendarai motor sudah mengantonginya. Kalau nggak malas ngurus sih. Yang malas ngurus mengganti peran SIM dengan mencari jalan tikus dan menghindari jalan raya kota. Hehe, itu yang saya lakukan dulu sebelum punya SIM.


Di dalam dompet saya, ada dua macam SIM yang saya punya. Satu SIM C yang sejak saya urus hingga sekarang belum pernah saya tunjukkan kepada polisi. Entah kenapa, semenjak saya mengantongi SIM yang digunakan untuk tanda layak mengendarai sepeda motor ini, malah saya nggak pernah mendapati penilangan di jalanan. Atau mungkin karena saya yang kurang dolan.


Selain SIM C, di dompet saya ada SIM A yang keberadaannya hanya sebagai pajangan saja. Padahal, sejatinya saya disuruh mengurus SIM itu sama bapak saya supaya menjadi modal saya di dunia kerja. Namun, karena jarang latihan dan pekerjaan saya saat ini tidak membutuhkan skill mengemudi mobil, SIM itu pun mangkrak di dompet saya. 


Mau tahu awal mula keberadaan SIM A di dompet saya? Sini, saya ceritakan runtut dari awal.


Berawal dari kursus mobil


Namanya juga lisensi, sama halnya dengan sertifikat, kalau hanya punya izin tanpa ketrampilan, ya, sama saja sertifikat atau lisensinya pasti diragukan kebenarannya. Ujung-ujungnya pasti merujuk ke hal-hal yang nggak baik, seperti hilangnya rasa percaya, hingga paling parah dituntut dan dikandang di jeruji penjara.


Supaya lebih kenal dengan basic-basic mengendara, saya disuruh bapak saya untuk menjalani kursus mobil. Tempat yang dipilihkan bapak saya adalah kursusan langganan yang telah punya banyak portofolio di keluarga saya. Mulai dari melatih bapak saya, ibu saya, kedua kakak saya, terakhir saya sendiri sebagai anak terakhir.


Setelah mendaftar, selama sepuluh hari berturut-turut di hari kerja, saya selalu datang meruput ke tempat pelatihan keterampilan menyetir mobil itu. Bukan karena terlalu rajin, tapi memang saya mendapatkan jadwal pelatihan pagi, yakni dari jam tujuh hingga jam delapan. Selama satu jam per harinya itu, saya diajarkan teknik-teknik dasar mengemudi mobil. Mulai dari menginjak setengah kopling, hingga materi terakhir belajar memundurkan mobil yang susahnya tujuh keliling.


Setelah ilmu-ilmu awal saya dapatkan, kursusan mobil itu juga menawarkan pelatihan kiat-kiat untuk bisa lolos SIM A. Saya yang baru bisa sedikit menyetir tentu merasa butuh pelatihan itu supaya segera punya SIM A dan bisa berlatih lagi di jalan raya tanpa perlu plang bertuliskan "Latihan Menyetir" di depan dan belakang mobil. Saya pun mengambil tawaran tersebut meskipun perlu merogoh kocek lagi.


Memperbanyak jam terbang bersama bapak


Setelah mengetahui ilmu dasar mengemudi dan telah resmi layak memegang SIM A, saya masih sangat kaku dalam mengemudi. Mesin yang tiba-tiba mati di tengah jalan hingga mengundang bunyi klakson sering terjadi. Membuat saya harus sering-sering mengasah keterampilan mengemudi saya dengan memperbanyak jam terbang.


Kebetulan bapak saya punya mobil, jadi saya bisa melanjutkan kursus sopir bersama beliau. Beberapa kali saya diajak wira-wiri melewati berbagai macam kontur jalan supaya kelak bisa menjadi sopir yang menguasai jalan kayak apapun. Pernah juga sekali saya dilatih bapak saya untuk menyetir di jalan yang disebut bapak saya sebagai jalan seribu lubang. Di sana mobil bapak yang saya setir berjalan bak kapal di arus samudra yang deras.


Namun, cara mengajar bapak saya tidak sebaik dan sesabar tentor di kursusan mobil tadi. Kesalahan yang saya lakukan saat kursus dulu ditanggapi dengan santai dan ketenangan, berbeda dengan bapak yang menanggapinya dengan membentak dan meremehkan, "Piye to?". 


Memang bapak saya adalah guru yang pekerjaannya adalah mengajar murid-muridnya, tapi di sekolah tempatnya bekerja beliau mengajar BP atau BK. Saya paham kalau mengajari budi pekerti dan mengajari keterampilan mengemudi adalah hal yang sepenuhnya beda. Apalagi menggunakan mobil pribadi yang nggak ada pedal pengemudinya di bangku pelatih.


Sim A mangkrak


Bagi sebagian orang, mungkin cara mengajar bapak saya yang banyak membentak dan meremehkan itu adalah pemicu semangat agar segera bisa mengendarai kendaraan roda empat. Namun, terjemahan yang masuk di otak saya tidak seperti itu. Menurut saya, cinta mati bapak saya terhadap mobilnya yang dibeli dengan jerih payah membuatnya lebih menghindari lecet satu inci daripada keterampilan mengemudi saya.


Keposesifan bapak saya ini membuat saya sungkan dan takut untuk meminta kursus kepadanya lagi. Hal ini membuat jam terbang mengemudi yang tadinya mulai merangkak terbangun kini runtuh lagi. Bahkan, mendekati nol, alias hilang semua ilmu yang saya dapatkan dari kursus setir mobil itu.


Saya iri kepada salah seorang teman kuliah saya, dia bisa dengan sesuka jidatnya berlatih dengan mobil bapaknya. Jam terbangnya bisa sangat tinggi setelah keliling sendirian bersama mobilnya. Walaupun katanya di awal dia belajar banyak sekali goresan ditimbulkan, namun bapaknya tidak marah kepadanya. Rasanya saya ingin belajar dengan dia. Namun, selain karena sungkan, saya dan dia juga terlalu sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Ya sudahlah, selamat mangkrak wahai SIM A.


Gambar: Andreas Breitling / Pixabay

Penulis : Muhammad Arif Prayoga


Tags: Mobil, Kursus mobil, Bapak, SIM A, Posesif,

Posting Komentar

0 Komentar