Stereotip Perempuan Nggak Peduli Keadaan Mesin Kendaraan yang Menurut Saya Kurang Tepat


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Stereotip adalah konsepsi mengenai sifat, watak, dan perilaku sebuah golongan atau kelompok hanya berdasarkan prasangka yang tidak benar. Dalam praktiknya, stereotip ini sangat erat kaitannya dengan pembagian gender.



Gambar: SplitShire / Pixabay


Misalnya, laki-laki dilabeli sebagai jenis kelamin manusia yang memiliki kepekaan lebih sempit dibandingkan dengan perempuan. Memang, saya pun menyadari itu. Tapi, di luar sana, nggak bisa dimungkiri bahwa ada laki-laki yang memiliki kepekaan tinggi, bahkan melebihi kepekaan perempuan sendiri.


Stereotip pengemudi perempuan abai terhadap kendaraan


Stereotip yang acap kali tertempel pada diri seorang perempuan, bahkan menjadi meme, adalah ketidakpedulian terhadap kendaraan yang mereka kendarai sehari-hari. Meme yang sering saya baca adalah adegan jual beli sepeda motor. Penjual memasang harga rendah, pembeli pun bertanya mengapa harganya sangat miring, kemudian penjual menjawabnya dengan, "Bekas pemakaian wanita, Kak."


Meme ini nggak akan mencuat ke publik kalau nggak ada contoh yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Namun, memojokkan jenis kelamin perempuan dengan stereotip ini rasanya kurang relevan, saya pikir. Sebagian besar perempuan mungkin abai terhadap kendaraan bermotornya, mungkin, saya nggak punya data mengenai itu. Tapi, apa semua laki-laki peduli terhadap kendaraannya?


Di keluarga saya nggak demikian


Di keluarga saya, ada sebuah sepeda motor dengan merek Honda Supra X 125. Sepeda motor yang kini menjadi kendaraan sehari-hari ibu saya itu merupakan sepeda motor terlama yang masih digunakan di keluarga saya. Ada juga, sih, merek Tiongkok, Kimco. Namun, sudah sejak lama mangkrak di belakang rumah.


Sejak dibeli tahun 2003 lalu, kayaknya, sepeda motor ini sudah berganti-ganti pengguna. Awalnya digunakan oleh ibu saya, lalu dipakai oleh bapak saya, kemudian kakak laki-laki saya, lalu saya, dan sekarang kembali digunakan oleh ibu saya. Pada saat dipakai pertama oleh ibu saya, sepeda motor ini rajin datang ke bengkel resmi, saya kerap diajak saat itu. Memburuknya kondisi sepeda motor ini justru terjadi setelah ibu saya sudah nggak menggunakannya lagi.


Kerusakan justru bermula saat dipakai oleh laki-laki


Saat digunakan oleh bapak, saya ingat sekali sebuah cerita. Saat itu saya sedang membonceng, nah, saat berkendara di sekitar rumah, bapak menabrak seekor domba yang dibawa oleh penggembala. Kami terjatuh, dombanya kesakitan, penggembala yang merupakan seorang nenek-nenek pun marah dibuatnya. Padahal, ya, salah si nenek itu sendiri nggak mengawasi dombanya yang merangkak masuk ke tengah jalan.


Saat dipakai oleh kakak saya, saat itu dirinya sedang bekerja di Semarang, sepeda motor ini bersama dengan kakak saya diseruduk bus Solo-Semarang yang identik dengan warna hijau. Pembaca yang tinggal di antara dua kota ini pasti tahu nama bus yang saya maksud. Kejadian ini membuat bekas baret cukup banyak di badan Supra X 125 ini.


Setelah dipakai oleh kakak saya, sepeda motor ini kembali diestafetkan kepada saya. Saya membawa sepeda motor ini selama 5 tahun, yakni mulai dari kelas satu SMA hingga kuliah semester 4. Sepeda motor ini kembali saya hadapkan dengan kejadian kecelakaan. Saat itu, saya ditabrak oleh seorang wanita yang gagal menyalip sebuah truk di jalan lumayan sempit. Kerusakan sepeda motor ini cukup parah akibat kejadian ini.


Sejak saya kuliah semester 4 hingga sekarang, sepeda motor ini digunakan oleh ibu saya. Sekarang ini kondisinya sangat mengenaskan. Banyak baret di badannya, ada juga onderdil utama yang harus diganti. Harganya mahal, sehingga dibiarkan saja oleh ibu saya.


Apa relevan stereotip ini?


Nah, dengan segenap kejadian yang menimpa Supra X 125 yang kini digunakan oleh ibu saya, apakah relevan stereotip tersebut dilabelkan kepada ibu saya sebagai seorang perempuan? Alih-alih ibu saya yang membuat sepeda motor ini kurang terawat, justru 3 orang pria yang sempat menggunakannya lah yang menjadi penyebab buruknya kondisi sepeda motor tersebut.


Itu baru satu contoh di keluarga saya, lho. Kalau saya amati, justru bapak-bapak malah lebih abai terhadap kondisi luar, alias bodi sepeda motor, apalagi dalamannya. Nggak semua laki-laki paham otomotif, begitu pula sebaliknya. Nggak semua perempuan nggak mengerti nama-nama suku cadang yang ada pada sepeda motor. 


Stereotip ini nggak nggak tepat untuk menyasar satu jenis kelamin saja. Bagus tidaknya kondisi kendaraan tergantung seberapa peduli dan seberapa perhitungan penggunanya. Kalau mau sepeda motornya awet hingga berdekade-dekade, ya kepedulian itu harus dipupuk sejak pertama kali membeli kendaraan tersebut. Nggak perempuan, nggak laki-laki, semua sama saja. Kepedulian nggak menyasar salah satu jenis kelamin atau gender saja.


Penulis : Muhammad Arif Prayoga


BACA JUGA: Apa Gunanya Menampilkan "HET" di Plang Pangkalan LPG, Kalau di Aplikasi Pertamina Beda?


Tags: Stereotip, Perempuan, Nggak peduli, Mesin, Kendaraan, Sepeda motor, Kurang tepat,


Posting Komentar

0 Komentar